Kudeta 1965 Versi Sukmawati Sukarno

“Bapak menangis  terisak-isak seraya berkata lirih,

‘Kenapa Bapak dibeginikan oleh bangsa sendiri?’

 

(Sukmawati dalam Creeping Coup D’etat Mayjen Soeharto)

 

Jas Merah. Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah, begitu kata Soekarno. Saya tentu setuju dengan kata-kata ini. Pada malam Minggu (10/03/12), banyak anak-anak muda kasmaran yang memilih pacaran untuk membunuh sepi. Saya memilih menghadiri sebuah acara satu jam bersama Sukmawati Sukarno lewat acara bedah buku “Creeping Coup D’etat Mayjen Soeharto” di Toko Buku Leksika Kalibata Jakarta.

 

“Ceeping Coup D’etat” Sebuah kudeta merangkak atau bertahap, ini yang ingin disampaikan oleh Sukmawati. Sebenarnya, istilah ini berasal dari Dr Subandrio, mantan Waperdam I dari Kabinet Dwikora era pemerintahan Soekarno dan Sukmawati menyetujuinya. Kudeta Merangkak yang dilakukan oleh Mayjen Soeharto dan kawan-kawannya itu melalui 4 tahap:

 

Tahap 1: Pada tanggal 1 Oktober 1965. Terjadinya suatu aksi penculikan dan pembunuhan beberapa Jenderal TNI  AD oleh kelompok G 30 S yang dipimpin oleh Letkol Untung dengan pasukan AD (Berseragam Tjakrabirawa/pasukan pengawal Presiden). Pada hari itu juga melalui RRI, Letkol Untung mengumumkan tentang dibentuknya Dewan Revolusi dan juga tentang Kabinet Dwikora Demisioner. Tahap II: Pada tanggal 12 Maret 1966 Letjen Soeharto sebagai Pengemban SUPERSEMAR atau Surat Perintah Sebelas Maret, membubarkan PKI.

 

Tahap III Letjen Soeharto memerintahkan penangkapan 16 Menteri Kabinet Dwikora yang merupakan kelanjutan aksi mendemisionerkan kabinet. Tahap VI: Pada tanggal 7 Maret 1967. Pencabutan kekuasaan Presiden RI, mandataris MPRS, Pangti ABRI, PBR, DR Ir Soekarno dengan Tap MPRS XXXIII/1967. Kesimpulannya, G 30 S adalah nama group/kelompok yang kenyataannya adalah bagian dari Dewan Jenderal (Soeharto dkk). Merekalah kelompok G 30 S yang mengawali gerakan atau aksi dari “Kudeta Merangkak” tersebut.

 

Beberapa hal diatas yang disampaikan oleh Sukmawati Soekarno. Saya sebagai peserta diskusi tidak percaya sepenuhnya dengan apa yang dikatakan Sukmawati. Dalam forum tersebut, terkesan Sukmawati menyalahkan Soeharto yang mengatakan PKI tidak terlibat, sehingga hanya menyebut G 30 S bukan G 30 S PKI. Namun, yang namanya sejarah, kita tidak tahu persis. Tapi saya percaya bahwa PKI justru terlibat dalam aksi kudeta ini, walau saya kira kalah cepat, kalah “Canggih” dengan gerakan yang dilakukan Soeharto cs.

 

Mengenai hal ini, beberapa waktu sebelumnya, saya mengikuti  acara “kumpul-kumpul” dengan Institut Peradaban, sebuah lembaga baru yang dipimpin oleh Prof Dr Salim Said (Direktur IP), saya juga kebetulan bergabung dan menjadi anggota lembaga ini. Beliau selain seorang Doktor Politik juga mantan wartawan  (Tempo) yang telah bekerja selama puluhan tahun. Dalam obrolan ringan disela-sela diskusi  rencana peluncuran lembaga kami, saya menangkap PKI memang terlibat. Seperti misalnya Syam yang seorang biro khusus PKI terlibat menculik AH Nasution walau keliru, yang diculik justru Tendean. Kenapa bisa begitu? Dikatakan oleh Prof Salim alasannya, Syam ini memang bukan orang militer jadi tidak cakap dalam bergerak. Saya sepakat dengan apa yang disampaikan oleh beliau. Jadi upaya untuk membalikkan opini bahwa PKI tidak terlibat dalam kudeta dan itu semua semata-mata kerjaan Soeharto, itu semua tidak benar. PKI jelas terlibat.

 

Ketika hal ini saya tanyakan ke pembicara (Sukmawati) dikatakannya bahwa “ PKI tidak terlibat, yang terlibat hanya petinggi- petingginya”. Baiklah, saya memang tidak melanjutkan perdebatan, untuk menghormati forum yang cenderung agak kaku itu. Hanya saja, yang perlu diwaspadai adalah upaya beberapa kalangan yang mencoba terus menyuarakan bahwa PKI tidak terlibat, PKI tidak terlibat. Semua itu bohong belaka dan pengingkaran terhadap fakta sejarah. Ini sama saja dengan sekarang mengatakan  bahwa Partai Demokrat tidak terlibat korupsi, yang terlibat hanya oknum-oknumnya. Semua orang akan terbahak-bahak mendengar lelucon ini.

 

Namun, terlepas dari semua itu, saya selalu mengapresiasi seseorang yang membuat buku untuk menyuarakan apa yang dirasakannya, kesaksian, maupun pemikirannya. Buku ini adalah semacam “catatan harian” Sukmawati Sukarno sebagai putri dari Presiden RI pertama. Yang menarik justru sisi humanisnya, bagaimana keluarganya sebagai seorang tokoh yang turut serta mendirikan dan memimpin negeri mesti disingkirkan, ditelantarkan dan terusir dari istana dengan “tidak hormat”.  Inilah nilai lebih buku ini.

 

Barangkali, inilah yang membuat luka dan menorehkan kenangan atas “kekejaman” Soeharto. Kondisi semacam ini yang kemudian tinta kemanusiaan mencatatnya, seperti  Sukmawati mengatakan dalam buku ini ”Bapak menangis terisak-isak seraya berkata lirih’ Kenapa Bapak dibeginikan oleh bangsa sendiri”

 

Inilah yang sempat saya catat dalam acara tersebut. Tapi yang menarik lagi, ada satu peserta yang berkata  lirih juga kepada saya “Sukmawati Soekarno ini, cara bicaranya runut dan sistematis, lebih cerdas dari kakaknya, Megawati”  Saya hanya tersenyum mendengar komentar tersebut, tentu pertanda setuju. (Yons Achmad).

http://wasathon.com/humaniora/read/kudeta_1965_versi_sukmawati_sukarno

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s