Catatan Harian Soebandrio G30S PKI (Bag 17)

Tinggallah saya sendiri. Tetap kesepian di penjara. Tidak ada lagi yang menjenguk.Tetapi, diam-diam ada seorang wanita yang bersimpati pada saya. Dia adalah mantan isteri Kolonel Bambang Supeno. Bambang adalah perwira tinggi AD yang ikut mendukung G30S atas instruksi Soeharto. Namun, seperti nasib perwira pelaku G30S lainnya, Bambang dihukum dan akhirnya meninggal dunia. Istrinya, SriKoesdijantinah, janda dengan dua anak, lantas bersimpati pada saya. Kami akhirnyamenikah di LP Cipinang pada tahun 1990. Saya sangat kagum pada Sri yang relamenikah dengan narapidana. Sangat jarang ada wanita setulus dia.Kini hidup saya tidak sendiri lagi. Meskipun saya tetap meringkuk di sel khusus,tetapi setiap pekan ada lagi orang yang menjenguk, setelah bertahun-tahun kosong.Sri muncul di saat semangat hidup saya nyaris padam. Setiap pekan dia membawakan saya nasi rawon kesukaan saya. Juga dua orang anak Sri sangat perhatian. Kepada saya. Sebagai sesama korban Soeharto, kami menjadi bersatu. Saya lantas menjadi sadar bahwa bukan hanya saya korban kekejaman Soeharto. Ada banyak korban lain yang jauh lebih sengsara dibanding saya. Sri benar-benar membuat hidup saya bersinar kembali.

Pada tanggal 16 Agustus 1995 saya dibebaskan. Saya pulang bersama Sri dan anak-anak. Kami menempati rumah besar di Jalan Imam Bonjol 16 yang dulu saya tinggalkan. Saya seperti bangun tidur di pagi hari. Saya seperti baru saja bermimpi, 30 tahun dalam kegelapan di penjara. Saya seperti menemukan hari baru yang cerah.Saya bersujud syukur alhamdulillah, masih diberi kesempatan menghirup udarabebas.

Setahun menempati rumah itu, kami merasa kewalahan. Biaya perawatannya sangatmahal. Sebagai seorang dosen di sebuah perguruan tinggi swasta, honor Sri tidakseberapa. Apalagi saya, penganggur tanpa penghasilan. Tiga jabatan sangat pentingsaya di zaman Presiden Soekarno tidak dihargai sama sekali. Saya tidak diberi uangpensiun. Akhirnya kami menjual rumah besar itu. Sebagai gantinya, kami membelirumah lebih kecil di Jakarta Selatan. Setelah Soeharto tumbang, banyak orang datang kepada saya, menganjurkan saya membuat memoar. Saya sesungguhnya tidak tertarik. Selain tidak memiliki persiapan yang matang, juga tidak ada gunanya bagi saya mengungkap masa lalu. Biarlah itu berlalu. Toh saya sudah menjalani hukuman 30 tahun. Toh saya sudah menerima hinaan disebut Durno, PKI, dan sebagainya. Saya sudah ikhlas menerimanya. Saya sudah legowo. Usia saya sudah senja. Tinggal meningkatkan amal soleh dan ibadah, sebagai bekal menghadap Sang Khalik, suatu saat nanti. Apalagi Soeharto akhirnya tumbang juga. Kalau saya mengungkap masa lalu, saya bisa larut dalam emosi. Maka, anjuran itu tidak saya turuti.

Namun, teman-teman sezaman, baik dari dalam maupun luar negeri terus menghubungi saya, baik melalui telepon maupun bertemu langsung. Merekamengatakan, sejarah G30S sudah dibengkokkan. Kata mereka, saya harus mengatakan yang sebenarnya untuk meluruskan sejarah. Ini bukan untuk anda, tapi penting bagi generasi muda agar tidak tertipu oleh sejarah yang dimanipulir, kata salah seorangdari mereka.

Diinformasikan bahwa salah satu pelaku sejarah G30S yang amat penting, KolonelAbdul Latief juga membuat buku berisi pledoinya dulu. Tetapi ada dugaan bahwaLatief tidak mengungkap total misteri G30S. Sebab, Mingguan terbitan Hongkong,Far Eastern Economic Review edisi 2 Agustus 1990 memberitakan bahwa memoarLatief yang lengkap disimpan di sebuah bank di luar Indonesia dengan pesan, bolehdipublikasikan jika Latief dibunuh. Itu berarti G30S masih misteri. Saya sempat bimbang. Keinginan saya mengubur masa lalu seperti digoyang begitu kuat. Apalagi banyak penulis kenamaan datang kepada saya, siap menuliskan memoir saya. Dalam kebimbangan itu saya ingat pada seorang wartawan muda yang paling sering mewawancarai saya, Djono W. Oesman. Dia saya hubungi dan saya minta menuliskan cerita saya, sebab saya percaya padanya. Dia pun setuju. Dialah penyunting buku ini. Hanya saya dan dia yang menyusun potongan-potongan peristiwa yang saya alami dan saya ingat.
Saya menyadari bahwa mungkin banyak kekurangan di dalam buku ini. Maklum,G30S adalah masalah internal AD, dan saya bukan dari AD. Tetapi saya dalah pelakusejarah G30S yang mengalami semua kejadian sebelum, saat meletus, sampai dampak peristiwa itu. Mungkin, inilah sumbangan saya, bagian dari amal ibadah untuk bekal kehidupan saya di akhirat kelak. Semoga ada manfaatnya. Amin.KOMENTAR

Teror, teror, dan teror. Tidak henti-hentinya. Saling susul-menyusul. Seolah tiadayang mampu menghentikan teror mental dan fisik yang dimulai sejak 1965,dilanjutkan pada Pemilu 1972. Gembar-gembor bahaya laten PKI terus didengung-dengungkan, untuk memperkuat rezim Soeharto. Teorinya, penguasa Orde Baru selalu menciptakan musuh semu bagi rakyat. Rakyat diberi musuh semu berupa momok bahaya laten PKI. Inilah teror mental. Sedangkan bagi mereka yang kritis, seperti para mahasiswa, dikenakan teror mental dan fisik.

Soeharto yang pada 1966 menggerakkan mahasiswa, dalam perjalanan kekuasaannya malah meneror mahasiswa. Terhadap mereka yang kritis dan suka berdemo, dilakukan penangkapan, interogasi, bahkan disiksa. Pada pertengahan 1970-an sudah beredar anekdot yang mengkritik keserakahan keluarga Soeharto. Misalnya, kalangan mahasiswa memberi julukan istri Soeharto, Siti Suhartinah (biasa dipanggil ibu Tien) dengan julukan Ibu Tien Persen. Artinya Ibu Sepuluh Persen. Menurut pembicaraan di kalangan mereka, ibu Tien sering minta komisi 10% jika ada investor asing masuk ke Indonesia.

Teror yang disebar oleh rezim Orde Baru seolah-olah merupakan unjuk kekuatansetelah membantai jutaan kaum komunis, keluarga, dan simpatisannya. Seolahdiumumkan, jangan macam-macam dengan penguasa. Jangan coba-coba melawanpenguasa. Dan, kritik dari generasi muda juga diartikan sebagai melawan penguasa.Maka, harus dihabisi. Bukti dari kesimpulan ini sudah kita saksikan bersama, bagaimana perjalanan rezim Orde baru membunuh kritik dari masyarakat. Mulai dari teror Pemilu 1972, dilanjutkan dengan teror, penangkapan serta penyiksaan terhadap mahasiswa yang berdemo pada 5 Januari 1974 (yang dikenal dengan Malari, yang merupakan singkatan dari Lima Januari).

Lantas dilanjutkan tindakan represif tentara kepada mahasiswa yang berdemo padatahun 1978. Demo damai umat Islam di tahun 1984 menghasilkan pembantaianTanjung Priok. Kekerasan demi kekerasan dialami rakyat. Setelah saya bebas,kemudian Soeharto jatuh dari kursi kekuasaannya, kekerasan menjadi warisan buruk kepada masyarakat. Perkelahian massal di Sambas, Kalimantan Barat yang saya baca di media massa, memamerkan pembantaian yang mengerikan.

Di koran dipasang foto kepala manusia tergeletak di pinggir jalan. Isu dukun santet diJatim malah lebih gila lagi. Kepala manusia yang sudah terpenggal, ditusuk denganbambu runcing dan diarak keliling kota. Di Malang, tidak jauh dari kota kelahiransaya, kepala manusia yang sudah terpenggal diikat lantas diseret dengan sepeda motor yang melaju keliling kota. Peristiwa-peristiwa yang saya sebutkan belakangan ini sudah bukan dilakukan oleh tentara lagi, tetapi oleh rakyat terhadap rakyat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s