Catatan Harian Soebandrio G30S PKI (Bag 15)

KARIR SAYA

Jika ada yang bertanya: lantas mengapa PKI dituduh sebagai dalang G30S? Makasaya akan balik bertanya: siapa yang menuduh begitu? Jika PKI mendalangi G30Satas inisiatif Aidit, makaIndonesia bakal menjadi lautan darah. Bukan hanya banjirdarah seperti yang sudah terjadi. Betapa ngeri memb ayangkan PKI dengan 3 jutaanggota didukung 17 juta anggota organisasi onderbouwnya berperang melawantentara yang hanya ratusan ribu. Bila genderang perang benar-benar ditabuh, alangkah hebat pertempuran yang terjadi.

Namun seperti kita saksikan, PKI tidak melakukan perlawanan berarti pada saatdibantai. Itu karena tidak ada instruksi melawan. Aidit malah lari dan lantas ditembak mati. Bung Karno – yang juga bisa menjadi panutan PKI – tidak memerintahkan apa-apa.Lantas saya dituduh PKI. Tuduhan atau stigma terlibat PKI bukan hanya saya terimasendirian. Banyak tokoh yang tidak disukai oleh Soeharto dituduh PKI. Ini bertujuanpolitis, agar kekuasaan Soeharto langgeng. Bagi saya tuduhan itu lebih keji lagi. Sayatidak hanya dituduh PKI, tapi juga dilontarkan julukan yang menyakitkan hati. Sayadijuluki Durno.Target penghancuran diri saya oleh kelompok Soeharto sebenarnya hanya sasaranantara. Tujuan utamanya adalah menjatuhkan Bung Karno. Seperti sudah saya sebut,skenario Soeharto merebut kekuasaan tertinggi ada 4 tahap:

1. menyingkirkan para perwira yang menjadi saingan beratnya, seperti A Yani danNasution (ini terwujud di G30S)
2. melikuidasi PKI, partai besar yang saat itu akrab dengan Bung Karno (initerlaksana setelah PKI dituduh mendalangi G30S).
3. memisahkan Bung Karno dari para pengikutnya (ini tercapai saat menangkapi 15menteri – termasuk saya – sekitar sepekan setelah keluarsurat perintah 11 Maret 1966).
4. Setelah 3 tahap itu tercapai, Bung Karno dengan mudah dijatuhkan dengan caraseolah-olah konstitusionil melalui ketetapan MPRS.

Nah, saya termasuk sasaran antara tahap ke-3. Saya bersama 14 menteri ditangkaptanpa alasan jelas. Mula-mula saya ditangkap dengan cara sopan oleh tentara: Maaf,pak, kami diperintahkan agar mengamankan Bapak dari kemungkinan amukan rakyat,kata tentara yang menangkap saya. Lantas, kami 15 menteri dikumpulkan di suaturuangan sekitar Senayan.Beberapa hari kemudian baru kami menyadari bahwa kami bukan diamankan tapiditangkap.Para tentara itu mulai bertindak kasar. Akhirnya kami dipenjarakan. Untukmenghancurkan nama baik kami, Soeharto menuduh kami teribat PKI. Bahkanmenambahi saya dengan julukan Durno. Kami dihinakan dan tersiksa lahir dan batindi penjara demi tujuan Soeharto meraih kekuasaan.

Saya memang pernah aktif dalam organisasi politik tapi di PSI (Partai SosialisIndonesia ). Kalau di PKI, saya sama sekali bukan anggota atau simpatisan,walaupun pada saat saya masih di puncak kekuasaan dengan merangkap tiga jabatansangat penting, orang-orang PKI banyak mendekati saya. PKI juga mendekati BungKarno. Malah, anggota dan pimpinan PKI ada yang menjadi anggota kabinet, bahkananggota ABRI.Agar lebih jelas, saya paparkan sekilas biografi saya. Saya lahir di Kepanjen (selatanMalang ), Jatim, 15 September 1914. Ayah saya, Kusadi, adalah Wedono Kepanjen. Ibu saya, Sapirah, adalah ibu rumah tangga biasa. Saya adalah anak kedua dari enam bersaudara.

Saya dibesarkan dalam keluarga Islam yang taat. Untuk ukuran posisi ayah di desakecil Kepanjen saat itu, keluarga kami cukup terhormat. Masa kanak-kanak sayahabiskan di Kepanjen. Saya sekolah di SR (Sekolah Rakyat setingkat SD) disana .Lulus SR, saya masuk MULO (setingkat SMP) di Malang. Sebab, saat itu di Kepanjenbelum ada sekolah MULO. Lulus MULO saya lanjutkan ke AMS tahun 1928. Sayamasuk sekolah terlalu dini, sehingga pada usia 14 tahun saya sudah tamat AMS.Tamat AMS, saya memilih melanjutkan ke sekolah kedokteran diJakarta . Tempatnyadi Jalan Salemba yang kemudian berubah menjadi UniversitasIndonesia . Saat itu saya memang ingin menjadi dokter – sebuah keinginan yang bisa dibilang muluk untuk ukuran rakyatIndonesia saat itu. Anak-anak rakyat biasa saat itu paling tinggi hanyasekolah SR. Saya bisa ke sekolah lanjutan, sebab ayah saya merupakan petinggi,walaupun hanya petinggi desa.

Tetapi, darilima saudara saya, hanya saya yang paling menonjol di sekolah, sehinggabisa melanjutkan sampai ke sekolah kedokteran. Semasa sekolah kedokteran, sayabanyak kenal dengan para pemuda pejuang, termasuk Bung Karno. Saya sering ikutdiskusi-diskusi mereka. Darisana saya juga dikenal para pemuda pejuang itu. Sayasendiri menjadi tertarik bergaul dengan mereka.Saya menyelesaikan sekolah dokter sesuai jadwal, yakni tujuh tahun. Tercapailahkeinginan saya menjadi dokter. Lantas saya mengambil brevet dengan spesialisasibedah perut. Saya selesaikan ini dalam tiga tahun, juga sesuai jadwal. Maka, padatahun 1938 saya sudah mengantongi gelar dokter ahli bedah. Ketika itu jumlah dokter umum masih sangat jarang, apalagi dokter spesialis. Kalau tidak salah, dokter ahli bedah hanya adalima orang. Tiga dariJakarta , termasuk saya, dua dariSurabaya(Universitas Airlangga).
Sebelum lulus, tahun 1936 saya menikah dengan Hurustiati, seorang mahasiswi tapibeda fakultas dengan saya. Ketika saya sudah lulus, ia masih kuliah. Usia kami hanyaberbeda beberapa tahun. Saya sedikit lebih tua.Begitu lulus, saya langsung ditarik pemeritah kolonial menjadi dokter diSemarang (sekarang RS Dr. Karjadi). Hanya beberapa bulan kemudian saya dipindahkan keJakarta (sekarang RS Dr. Cipto Mangunkusumo). Ahli bedah disana saat itu hanya dua orang, termasuk saya. Untuk menyalurkan hobi berdiskusi saat mahasiswa, saya masuk PSI. Hanya dalam waktu beberapa bulan saja, pada 1940 saya sudah menjadi wakil ketua PSI.

Akhirnya saya mundur dari rumah sakit. Saya juga tidak praktek pribadi. Sepanjanghidup saya juga tidak pernah praktek dokter pribadi. Karir saya di kedokteran selesaisampai di situ, sebab saya jenuh dengan pekerjaan yang menurut saya monoton. Saya lebih tertarik berorganisasi. Sampai akhirnya proklamasi kemerdekaandikumandangkan oleh Bung Karno. Sekitar tahun 1946 saya ditunjuk oleh Presiden Soekarno menjadi wakil pemerintah Indonesia di Inggris, berkedudukan diLondon . Penunjukan itu tiba-tiba saja. Tidak melalui proses, misalnya, menjadi pegawai negeri dulu. Mungkin karena saat itu jumlah manusia tidak sebanyak sekarang. Dan, penunjukan Presiden Soekarno langsung saya terima. Istri saya juga setuju.

Ini sebenarnya jabatan duta besar, tetapi kemerdekaanIndonesia belum diakui PBB.Sehingga saya tidak dipanggil duta besar, baik di Indonesia maupun di Inggris. BungKarno hanya menyebut jabatan saya: Wakil Pemerintah Indonesia di Inggris. Sebelum berangkat ke London, saya was-was. Tetapi setelah di Inggris, keberadaansaya ternyata diterima oleh Pemerintah Inggris. Memang tidak ada penyambutan saat saya datang. Saya juga tidak membayangkan akan disambut. Lantas saya membuka kantor di London. Inilah embrio Kedutaan Besar RI untuk Inggris. Dan, itulah awal saya meniti karir di pemerintahan. Jika banyak orang menempati jabatan Dubes sebagai pos buangan, saya malah memulai karir dari pos itu.Tahun 1950 baru saya disebut Duta Besar RI untuk Inggris berkedudukan di London.Bagi saya sebenarnya tidak ada perubahan. Hanya sebutannya saja yang berubah.Namun, kemudian reaksi pemerintah Inggris terhadap keberadaan saya di sana secara bertahap berubah ke arah positif. Saya sering diundang ke acara-acara kerajaan, sebagaimana diperlakukan terhadap para duta besar dari negara-negara merdeka lainnya.

Dari seringnya menghadiri undangan acara kerajaan itu saya sering berdekatandengan Ratu Elizabeth. Saat itu tidak terbayangkan oleh saya bahwa berdekatandengan Ratu Elizabeth kelak bisa menyelamatkan nyawa saya dari eksekusi hukuman mati yang tinggal menunggu hari (soal ini sudah diungkap di muka). Saya hanya menjalankan tugas negara. Dan, dalam menjalankan tugas, antara lain, harusmenghadiri acara-acara seremonial tersebut. Pada tahun 1954 Presiden Soekarno menarik saya dari London, dan memindahkan saya ke Moskow. Resminya jabatan baru saya adalah Duta Besar RI untuk Uni Soviet di Moskow. Dua tahun di sana, lantas saya diperintahkan pulang ke Jakarta. Tiba di tanah air saya ditunjuk oleh Presiden menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Luar negeri, menggantikan Roeslan Abdoelgani. Sedangkan Roeslan menjadi Menlu menggantikan Ali Sastroamidjojo. Yang unik adalah bahwa Ali turun jabatan menjadi Dubes RI untuk AS di Washington.

Setahun kemudian saya dipanggil oleh Bung Karno. Setelah menghadap, Bung Karnoberkata demikian: Bandrio, kamu saya tunjuk menjadi Perdana Menteri. Saya kaget.Itu merupakan suatu loncatan jabatan yang luar biasa – dari Sekjen Deplu menjadiPerdana Menteri. Menanggapi ini saya mengatakan, minta waktu berpikir. Sesungguhnya saya menolak tawaran itu. Saya merasa tidak enak dengan para seniorsaya. Memang, saya merasa Bung Karno menaruh simpati pada saya. Tolok ukurnyaadalah bahwa Bung Karno sering menugaskan saya membuat naskah pidatonya.Bahkan, pada suatu hari Bung Karno berpidato di Markas PBB. Sebelum tampil Bung Karno meminta saya membuatkan naskah pidato, padahal saya di Jakarta. Namun, tugas itu tetap saya laksanakan. Walaupun saya jarang bertatap muka dengan BungKarno, terasa sekali dia bersimpati pada saya. Tapi, saya merasa belum mampu menjadi Perdana Menteri. Apalagi saya belum lama pulang ke tanah air, sehingga saya kurang memahami perkembangan situasi terakhir.

Menolak tawaran Bung Karno juga tidak enak. Lantas jalan keluarnya adalah bahwasaya bicara dengan Ketua PNI Suwito. Saya minta tolong Suwito menghadap BungKarno, untuk menyampaikan keberatan saya. Sambil menyampaikan ini iamengusulkan nama Djuanda. Ternyata Bung Karno setuju. Jadilah Djuanda PerdanaMenteri. Untuk menjalankan tugasnya dia dibantu oleh presidium yang disebut Wakil Perdana Menteri (Waperdam). Ada dua Waperdam, yakni Waperdam-I Idham Khalid dan Waperdam-II Hardi. Selanjutnya saya menjadi Menlu menggantikan Roeslan.Setelah Djuanda meninggal dunia, tiga menteri dipanggil oleh Bung Karno – sayasendiri, Menteri Pangan Leimena, dan Menteri Pemuda Chaerul Saleh. Tujuannyaadalah untuk mencari pengganti Djuanda dari tiga menteri ini. Proses pemilihannyaunik sekali, sehingga tidak saya lupakan. Bung Karno memberi kami masing-masing tiga batang korek api. Semula kami bingung. Bung Karno menyatakan bahwa ini pemilihan yang adil dan demokratis. Masing-masing diberi sebatang korek utuh, setengah batang tanpa pentolan (karena sudah dipatahkan oleh Bung Karno), dan setengah batang dengan pentolan (juga sudah dipatahkan sebelumnya). Bung Karno meletakkan sebuah kantong di meja. Cara permainannya, batang korek utuh merupakan simbol saya, setengah batang tanpa pentolan menjadi simbol Leimena, dan setengah batang dengan pentolan mewakili Chaerul. Bung Karno minta, masing-masing memilih satu saja untuk dimasukkan ke dalam kantong. Saat memasukkan korek ke kantong, tangan harus menggenggam supaya tidak diketahui yang lain.

Pemilihan pun dimulai.Saya memasukkan setengah batang korek tanpa pentolan. Artinya, saya memilih Leimena. Lantas disusul Leimena dan Chaerul. Meskipun bentuknya sangat sederhana, tetapi inilah pemilihan Perdana Menteri Indonesia. Suasana hening. Bung Karno memandang masing-masing menteri yang memasukkan korek ke sebuah kantong. Sampai semuanya menggunakan hak pilihnya.

Apa yang terjadi berikutnya? Bung Karno menumpahkan isi kantong itu secara blak-blakan. Yang tampak: sebatang korek utuh, setengah batang tanpa pentolan, dansetengah batang dengan pentolan. Lengkap. Bung Karno geleng-geleng kepala. Hasilsuara seimbang untuk tiga kandidat. Pemilihan macet. Kami saling memandang satusama lain. Lantas kami saling terbuka. Saya pilih Leimena, sebaliknya Leimena pilihsaya, Chaerul pilih dirinya sendiri. Leimena kemudian bicara. Sebaiknya Soebandrio menjadi Perdana Menteri. Alasannya, Indonesia butuh perhatian penuh di bidang luar negeri. Terutamamenyangkut Irian Barat yang statusnya belum jelas. Untuk itu perlu diplomasiinternasional. Orang yang tepat adalah Soebandrio, ujarnya. Bung Karno ternyatasetuju dan memanggil ajudannya Brigjen Sabur untuk menuliskan keputusan di kertas kop kenegaraan.

Sebelum terlaksana, saya minta bicara. Saya katakan, tidak perlu merombak kabinet.Sebaiknya Bung Karno selain Presiden juga Perdana Menteri didampingi oleh paraWaperdam. Nah, Waperdamnya adalah kami bertiga. Bung Karno juga setuju. LaluLeimena main tunjuk, saya Waperdam-I, Leimena Waperdam-II, Chaerul Waperdam-III. Hebatnya, tanpa banyak bicara lagi semuanya sepakat.Tidak lama kemudian saya dibebani satu tugas lagi sebagai Kepala BPI. Maka, sayamerangkap tiga jabatan. Semakin jelas bahwa Presiden mempercayai saya. Walaupun cukup berat, namun saya laksanakan tugas-tugas yang diberikan. Saya masih sempat melaksanakan ibadah haji. Sebagai imbalan, selain digaji, saya juga diberi rumah cukup di Jalan Imam Bonjol 16, Menteng, Jakarta Pusat. Untuk ukuran saat itu rumah tersebut sudah cukup mewah. Di rumah itu pula saya memiliki perpustakaan. Kelak perpustakaan saya ini dihancurkan oleh penguasa Orde baru.Tahun 1958 anak saya yang pertama lahir, dan kami beri nama Budojo. Ternyatahanya itu anak saya, sebab dia tidak punya adik lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s