Catatan Harian Soebandrio G30S PKI (Bag 16)

Saat saya menjadi pejabat tinggi negara, ada yang unik. Saya menjadi tukang khitanbeberapa anak pejabat. Ceritanya, para pejabat itu tahu bahwa saya adalah dokter ahli bedah. Saat itu sudah banyak dokter ahli bedah. Tapi, entah mengapa mereka minta tolong saya untuk mengkhitankan anak mereka. Ada beberapa anak pejabat yang sudah saya khitan. Saya hanya menolong mereka dengan ikhlas. Sejak mengundurkan diri dari RS, saya tidak pernah praktek dokter pribadi. Beberapateman menyayangkan bahwa saya tidak buka praktek. Sebab, saat itu jumlah doktermasih sedikit. Tetapi, karena sudah menjadi niat saya untuk terjun ke dalam kancahpolitik, saya tinggalkan bidang pekerjaan yang sebenarnya sesuai dengan bidangpendidikan saya itu. Ya, saya harus memilih, dan saya sudah menentukan. Jadinya,saya hanya menjadi tukang khitan anak pejabat.

Sepanjang saya menjadi pejabat tinggi negara, memang ada beberapa tokoh PKI yang akrab dengan saya. Sebagai pejabat tentu saya akrab dengan pimpinan PKI, DN Aidit. Juga dengan beberapa tokoh PKI lainnya. Tetapi, saya tidak masuk ke dalamkeanggotaan partai itu. Saya juga tidak aktif di PSI, sejak menjadi pejabat negara. PKI saat itu adalah partai besar. Mereka tentu memiliki ambisi politik tertentu, sehingga mereka tidak hanya mendekati saya, tetapi juga pejabat tinggi negara lainnya, termasuk Bung Karno. Bahkan, beberapa tokoh PKI masuk ke dalam jajaran kabinet. Banyak juga di ABRI. Sebab, PKI saat itu memang partai besar dan legal. Jadi, wajar kalau tokohnya duduk di kabinet dan ABRI.

Sebagai gambaran, salah satu partai besar saat ini (tidak perlu saya menyebutnamanya) menempatkan tokohnya di jajaran kabinet. Bahkan, ada yang masuk kejajaran ABRI. Bukankah itu hal yang wajar? Dan, kalau para pimpinan partai itumendekati pimpinan puncak, presiden dan orang-orang terdekatnya, juga wajar.Kondisinya berubah menjadi tidak wajar setelah partai tersebut dinyatakan sebagaipartai terlarang. Itulah PKI.Saat G30S meletus – seperti sudah saya sebutkan di muka – saya sedang bertugas diMedan. Kami keliling daerah untuk memantapkan program-program pemerintah.Begitu saya diberitahu oleh Presiden Soekarno, saya langsung pulang, dan tiba diistana Bogor bergabung dengan Presiden Soekarno pada 3 Oktober 1965. Setelah itukondisi negara tidak menentu. Presiden Soekarno sudah menjadi tawanan Soeharto di Istana Bogor sejak 2 Oktober 1965.

Sejak itu pula kelompok Bayangan Soeharto menyebarkan propaganda bahwa G30Sdidalangi oleh PKI. Ketua PKI, DN Aidit, ditembak mati di Jawa Tengah. Namunmuncul pengakuan tertulis Aidit – yang sangat mungkin merupakan rekayasa – bahwa ia yang mendalangi G30S. beberapa tokoh PKI lainnya juga ditembak mati, tanpa proses pengadilan. Semua ini adalah cara untuk membungkam PKI, agar tidak bicara.

Memang, pada 1 Oktober 1965 Aidit berada di Halim, pusat pasukan G30S berkumpul. Namun, saya dengar istri Aidit mengatakan bahwa pada tanggal 30September 1965, malam hari, Aidit diculik dan dibawa ke Halim. Aidit terbang keYogyakarta, beberapa saat setelah Bung Karno meninggalkan Halim. Saya sangat yakin bahwa dalang G30S bukan Aidit. Saya ingat saat saya dan Aidit sama-sama menjenguk Bung Karno yang sedang sakit. Setelah saya periksa, Bung Karno ternyata hanya masuk angin. Tetapi, disebarkan isu bahwa Bung Karno sedangsakit berat, paling tidak bisa lumpuh. Isu tersebut merupakan propaganda yangditujukan untuk konsumsi publik di luar PKI. Sebab, PKI pasti mengetahui, karenaAidit bersama saya menjenguk Bung Karno. Propaganda itu bertujuan untuk member alasan keterlibatan PKI dalam G30S. Propaganda itu akan membangun opini public bahwa PKI bergerak merebut kekuasaan sebelum didahului oleh pihak lain,mengingat sakit kerasnya Bung Karno.
Yang mengetahui rahasia ini hanya Bung Karno, Aidit, dokter RRC yang didatangkanoleh Aidit dari Kebayoran-Baru, Jakarta, Dokter Leimena, dan saya sendiri. Tanpaberniat membela Aidit, saya yakin bahwa bukan Aidit yang mendalangi PKI, sebabsaya tahu persis. Kalau Aidit mendukung pembunuhan anggota Dewan Jenderal,memang ya. Dalam suatu kesempatan, saya dengar Aidit mendukung gerakanmembunuh anggota Dewan Jenderal yang dikabarkan akan melakukan kudetaterhadap Presiden. Sebab, kalau sampai Presiden terguling oleh kelompok militer,maka nasib PKI selanjutnya bakal sulit.

Tetapi, Aidit hanya sekadar mendukung dalam bentuk ucapan saja. Tetapi akhirnya propaganda Soeharto melalui media massa sukses. Kesan bahwa PKI mendalangi G30S melekat di benak publik. Malah diperkaya dengan cerita pembantaian para jenderal di Lubang Buaya oleh kelompok Gerwani yang menari- nari sambil menyiksa para jenderal. Dikabarkan bahwa mata para jenderal dicungkil, kemaluannya dipotong, tubuhnya disayat-sayat. Penyiksaan keji ini diberi namaUpacara Harum Bunga – suatu nama yang sangat kontras dengan kekejiannya.Sungguh suatu cerita yang mengerikan.Cerita ini diperkuat dengan pengakuan seorang wanita bernama Jamilah dan kawan-kawan yang mengaku sebagai orang Gerwani. Saya tidak tahu, siapa Jamilah itu.Tetapi cerita ini dipublikasikan oleh pers yang sudah dikuasai Soeharto. Dalamsekejap kemarahan rakyat terhadap PKI tersulut.

Padahal, cerita yang disebarkan Soeharto itu semua bohong. Terbukti, setelahSoeharto tumbang, para dokter yang membedah mayat para jenderal dulu bicara ditelevisi: mayat para jenderal itu utuh, Sama sekali tidak ada tanda-tanda penyiksaan.Memang kulit mayat terkelupas, tetapi berdasarkan penelitian, itu karena mayattersebut terendam di dalam air (sumur) selama beberapa hari.

Saya bukan PKI. Memang, saya pernah menyerukan penghentian pembantaianterhadap pimpinan dan anggota PKI oleh AD pada pertengahan Oktober 1965. Itusaat-saat awal PKI dibantai. Seruan saya ini atas perintah Presiden Soekarno yangtidak menghendaki pertumpahan darah. Bung Karno saat itu masih memegangkendali. Beberapa jam setelah G30S meletus, ia memerintahkan agar semua pasukanbersiap di tempatnya. Jangan ada yang bergerak di luar perintah Presiden. Sebab, pada dasarnya Bung Karno tidak menghendaki pertumpahan darah. Namun perintah Presiden tidak digubris. Seruan saya juga tidak dihiraukan. Pambantaian PKI terus berlangsung.

Malah, sejak itu saya dicap sebagai pro-PKI. Apalagi saya pernah ditugaskan diMoskow. Saya juga pernah ditugaskan berkunjung (sebagai Menlu) ke Beijing, RRCdan diberi tawaran bantuan senjata gratis oleh pimpinan RRC. Sedangkan Moskowdan Beijing adalah poros utama komunis. Dari rangkaian tugas-tugas kenegaraan saya itu lantas saya dicap pro-PKI. Saya sebagai pejabat tinggi negara saat itu tidak dapat berbuat banyak menanggapi cap tersebut. Sebab, bukankah semua itu karena saya menjalankan tugas negara?

Saya merasa cap PKI menjadi mengerikan bagi saya, setelah PKI dibantai habis-habisan. Pada Sidang Kabinet 11 Maret 1966 di Istana Negara saya menjadi incaranpembunuhan tentara, meskipun saat itu saya masih pejabat tinggi negara. KetikaIstana Negara dikepung oleh pasukan Kostrad pimpinan Kemal Idris dibantu olehpasukan RPKAD (kelak berubah menjadi Kopassus) pimpinan Sarwo Edhie, jelassaya diincar. Dari laporan intelijen, saya diberitahu bahwa Kemal Idris bersamapasukannya akan membunuh saya. Itu juga atas persetujuan Soeharto. Tetapi akhirnya saya lolos.

Beberapa hari setelah itu baru 15 menteri ditangkap, termasuk saya. Jika sebelumnya cap pro-PKI terhadap diri saya tidak terbuka, sejak saya ditangkap cap itu semakin menyebar secara luas. Malah, Soeharto menambahi julukan baru bagi saya: Durno. Sebagai orang Jawa, tentu saya sangat sakit hati diberi julukan itu. Sebab, Durno adalah tokoh culas dalam pewayangan. Durno suka mengadu-domba. Soal julukan ini saya tidak tahu bagaimana asal-usulnya. Yang tahu tentu hanya Soeharto. Tetapi, ini memang bagian dari penghancuran diri saya sebagai pengikut setia Bung Karno. Dan, julukan Durno bagi saya baru muncul setelah saya ditahan, setelah Bung karno mendekati ajal politiknya.

Di dalam penjara, saya sama sekali tidak disiksa secara fisik. Kalau disiksa mental,sudah jelas. Interogasi tak habis-habisnya hanya untuk tujuan menjatuhkan mental.Sebagai mantan pejabat tinggi negara, saat itu mental saya sudah jatuh. Daripemegang kekuasaan negara berubah menjadi orang tahanan. Mungkin sayamengalami depresi. Istri saya tentu mengalami hal yang sama. Anak saya satu-satunya masih kecil.

Saya diadili di Mahmilti tidak lama kemudian. Tetapi, anehnya dakwaan buat sayabukan sebagai PKI atau terlibat G30S. Sama sekali tidak menyinggung dua hal pokokitu. Padahal, saya sudah dicap pro-PKI. Saya sudah dijuluki Durno. Saya diadili karena ucapan saya bisa menimbulkan kekacauan saat saya berkata:

Kalau ada teror, tentu bakal muncul kontra-teror. Beberapa setelah G30S meletus,para pemuda yang dimanfaatkan AD mendesak agar Bung Karno diadili. Merekadidukung oleh AD untuk melakukan demonstrasi dan melancarkan teror bagi BungKarno serta para pendukungnya. Suatu saat saya mengatakan, jika ada teror (dari para pemuda) maka bakal muncul kontra-teror (entah dari mana).

Nah, ucapan saya ini dinilai bisa memancing kekacauan. Saya dituduh melakukansubversi. Sidang berlangsung singkat, lantas saya dijatuhi hukuman mati. Benar-benar pengadilan sandiwara. Mereka gagal membunuh saya secara terang-terangan di Sidang Kabinet 11 Maret 1966, toh mereka bisa membunuh saya secara’konstitusional’ di pengadilan sandiwara ini. Naik banding dan kasasi saya tempuhsekadar semacam reflek menghindari kematian. Namun upaya hukum itu percuma.Sebab, pengadilannya saja sudah sandiwara. Dan, pengadilan sandiwara di banyak kasus seputar G30S dan PKI di awal kepemimpinan Soeharto, kemudian berdampak sangat buruk bagi Indonesia.

Sejak itu sampai sekarang, pengadilan sandiwara merupakan hal lumrah. Pengadilan sandiwara kasus seputar G30S merupakan semacam yurisprudensi (rujukan) bagi serentetan amat panjang pengadilan sandiwara berikutnya. Moral aparat hukum rusak berat. Pengadilan berbagai kasus di-subversi-kan berikutnya: Tanjung Priok, Lampung, demonstrasi mahasiswa yang kritis terhadap pemerintah Orde Baru, diadili dengan pengadilan sandiwara merujuk G30S. Bahkan juga kasus-kasus korupsi. Salah menjadi benar, benar menjadi salah. Ini sama sekali bukan pelampiasan dendam saya terhadap Soeharto. Tak kurang Presiden KH Abdurrahman Wahid (tidak ada hubungannya dengan saya) sampai melontarkan pernyataan bahwa seluruh hakim Jakarta akan diganti dengan hakim impor.

Di dalam penjara, awalnya saya mengalami depresi. Kesalahan saya satu-satunyaadalah menjadi pengikut setia Bung Karno. Namun kemudian saya tidak menyesalmenjadi pengikut setia Bung Karno, sebab itu sudah menjadi tekad saya. Dan, inimerupakan risiko bagi semua orang yang berkecimpung di bidang politik. Saya masuk sel isolasi, terpisah dengan napi lain. Meskipun saya tidak disiksa fisik, namun direkayasa sedemikian rupa sehingga batin saya benar-benar tersiksa. Kondisi penjara yang sangat buruk, suatu saat membuat perut saya terluka dan mengalami infeksi. Saya tahu, itu obatnya sederhana saja. Tetapi, pemerintah tidak menyediakan.
Luka saya dibiarkan membusuk digerogoti bakteri. Ketika luka saya sudah benar-benar parah (berulat), baru diberi obat. Rupanya pemberian obat yang terlambat itumemang disengaja. Akibatnya, luka memang sembuh. Namun sampai kini seringkambuh, rasa nyeri luar biasa. Di dalam, saya dilarang menulis, membaca berita, dijenguk keluarga atau teman (baru beberapa tahun kemudian dibolehkan). Satu-satunya bacaan saya adalah ayat suci Al-Qur’an. Tetapi, bacaan ini seperti mengembalikan saya pada suasana masa kanak-kanak yang agamis. Saya malah mendapatkan ketenangan jiwa yang tidak saya rasakan ketika saya menjadi pejabat tinggi negara.

Akhirnya saya lolos dari hukuman mati karena kawat dari dua petinggi negaraadidaya, AS dan Inggris. Hukuman saya diubah menjadi seumur hidup. Tetapi sayatetap ditempatkan di sel isolasi mulai dari Salemba (Rutan Salemba), LP Cimahi,sampai LP Cipinang. Pada tahun 1978 anak saya Budojo meninggal dunia karena serangan jantung. Ibunya benar-benar mengalami depresi berat. Sejak saya dihukum, hanya Budojo yang membuat ibunya tabah menghadapi cobaan. Saya bisa membayangkan, betapa isteri saya hidup nelangsa. Dari seorang istri pejabat tinggi negara, mendadak berubah menjadi ‘istri Durno’, disusul anak satu-satunya pun meninggal dunia. Maka, beberapa bulan kemudian istri saya menyusul Budojo, berpulang ke rahmatullah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s